Perjalanan sejarah Indonesia memang tidak terlepas dari perjuangan rakyatnya dalam menghadapi para penjajah. Dimulai dari kedatangan Portugis di tanah Maluku pada tahun 1509, kemudian disusul oleh Spanyol di Minahasa, dan Sulawesi Utara pada 1521. Kedua negara penjajahan tersebut pada awalnya datang sebagai sahabat dan disambut dengan hangat. Namun, kepercayaan tersebut dibalas sebaliknya dengan niat menguasai sehingga menyulut peperangan. Selanjutnya, pada abad ke-17, yaitu pada tahun 1602 Belanda pun tiba di tanah air dan berhasil menduduki beberapa daerah di Nusantara, seperti Sumatera, Jawa, Sulawesi, dan Papua. Sejak itulah Belanda menguasai tanah air selama 350 tahun lamanya.

Sumber: https://poskotanews.com/2012/02/06/kantor-rw-02-kelapa-dua

PECAHNYA PERANG DUNIA II

Selama 350 tahun lamanya Indonesia berada di dalam genggaman penjajah Belanda. Selama itu pula Indonesia berada di bawah tekanan seiring dengan semakin meluasnya kekuasaan Belanda yang menguasai seluruh wilayah Nusantara, Jadilah sebuah negara koloni bernama Hindia Belanda. Negara koloni bentukan Belanda ini secara de jure dan de facto dikepalai langsung oleh Ratu atau Raja Belanda. Sedangkan, untuk menjalankan pemerintahannya, pihak kerajaan Belanda menempatkan seseorang Gubernur-Jendral sebagai perwakilannya dan diberikan kuasa penuh.

Kondisi masyarakat Indonesia masa penjajahan Belanda

Sumber: https://www.brilio.net/wow/12-foto-langka-zaman-penjajahan-di-indonesia-suasananya-mencekam

Akhirnya, di pertengahan abad 20 Perang Dunia II pun pecah, yaitu pada tahun 1939. Perang tersebut diawali dengan penyerangan Jerman terhadap Polandia. Menyikapi hal tersebut Britania Raya dan Perancis pu  turut menyatakan perang terhadap Jerman. Hingga akhirnya, api peperangan pun kian membesar dan melibatkan lebih banyak negara, termasuk Jepang dan Amerika. Keterlibatan Amerika tersebut dipicu atas pengeboman Pearl Harbor yang merupakan pusat Angkatan Laut Amerika Serikat yang terletak di Pulau Oahu, Hawaii oleh pasukan udara Jepang. Dalam peristiwa tersebut ribuan serdadu Amerika tewas. Puluhan kapal perang pun karam, sebuah pukulan telak bagi Amerika.

Sedangkan, di kawasan Asia, Jepang berusaha menguasai kawasan Asia Tenggara dan bernafsu menduduki wilayah-wilayah koloni Eropa di Asia. Tujuannya adalah untuk mengambil alih dan menguasai sumber daya alam yang terdapat di wilayah-wilayah tersebut, termasuk Indonesia.

MASUKNYA JEPANG KE TANAH AIR

Jepang mulai masuk ke Indonesia pada tahun 1942 dalam upaya menguasai kawasan Asia Tenggara. Kedatangan Jepang pun bagi Indonesia merupakan kesempatan yang baik untuk lepas dari cengkraman penjajah Belanda. Namun, kedatangan pasukan dari negeri matahari terbit itu bukan untuk membantu Indonesia menggapai kemerdekaannya, tetapi untuk mendapatkan sumber daya alam yang dimilikinya, terutama minyak bumi. Ditambah lagi pada saat itu, Amerika melancarkan embargo minyak bumi terhadap Jepang. Oleh karena itu, untuk membangun kekuatannya, Jepang berupaya menguasai kawasan Asia Timur Raya dan salah satu upaya tersebut adalah dengan menyerang Pearl Harbour yang menjadi basis kekuatan Amerika.    

Selanjutnya, Jepang begitu bernafsu ingin menguasai kawasan Asia Tenggara, terutama wilayah kepulauan. Kekaisaran pun segera menurunkan pasukannya di beberapa kawasan, seperti Filipina, Malaya atau Singapura, lalu berangkat ke kawasan Jawa (Indonesia).

Pasukan Jepang memasuki tanah Aceh         

Sumber: http://indonesia-zaman-doeloe.blogspot.com/2013/02

Kedatangan Jepang, khususnya ke Indonesia, adalah untuk menghimpun kekuatan dan menjalankan industri militer mereka dalam menghadapi sekutu. Saat itu, Jepang harus melawan tiga negara  sekaligus, yaitu Amerika, Inggris, dan juga Belanda. Jepang sadar bahwa mereka tidak mungkin melawan tiga negara besar itu sendirian, mereka membutuhkan bantuan untuk menghadapi musuh-musuhnya. Di sisi lain Indonesia memiliki pengalaman pahit dengan Belanda. Tiga abad lebih berada di bawah tirani penjajahan Belanda bukanlah waktu yang singkat.

Dengan kedatangan Jepang ke tanah air bak anugerah yang tidak disangka-sangka. Bagaimana tidak, Jepang mampu menghapus bersih semua tirani tersebut dalam waktu yang singkat. Belanda betul-betul dipecundangi, mereka terusir dari wilayah koloni mereka. 

Sebagian serdadu Belanda tewas dalam perlawanan, sebagian lagi dipenjarakan sebagai tawanan. Tidak heran jika kedatangan Jepang disambut dengan sukacita dan penuh harap, kendati semua harap itu pun pupus dalam waktu singkat.

Salah satu poster propaganda Jepang untuk 

menarik simpati rakyat Indonesia.

Sumber: https://www.pinterest.com/pin/763641680545228619/?nic=1

Untuk meloloskan tujuan utamanya, tidak segan Jepang mengelabui rakyat Indonesia, yaitu dengan melancarkan berbagai propaganda bahwa mereka adalah saudara tua yang sama-sama berdarah Asia. Terlebih lagi pada saat kedatangannya, pasukan Jepang berhasil mengusir penjajah Belanda dari tanah air, satu hal yang sulit dilakukan oleh rakyat Indonesia sejak berabad tahun yang lalu.

Propaganda Jepang pun bisa dikatakan berhasil dan rakyat mulai bersimpati. Dengan begitu, sumber minyak bumi yang terdapat di Sumatera pun dapat dengan mudah dikuasai Jepang dan menjadikannya basis minyak utama. Selain itu, Jepang juga menguasai sepenuhnya kawasan Jawa, kawasan yang menurut mereka begitu strategis sebagai pusat penyediaan seluruh operasi militer Jepang di Asia Tenggara.

PENGENALAN KONSEP TONARIGUMI

Serangan berani Jepang terhadap pertahanan Amerika Serikat di Pearl Harbour merupakan tindakan berani yang kelak harus dibayar mahal oleh kekaisaran Jepang. Saat itu, Amerika dibuat kalap dan terang-terangan menyatakan perang dengan Jepang. Pasukan sekutu pun terbentuk yang terdiri dari Amerika, Inggris, dan Belanda. Kini Jepang harus menghadapi tiga kekuatan perang tersebut sekaligus. Oleh karena itu, Jepang membutuhkan tambahan pasukan dengan memanfaatkan masyarakat pribumi untuk dilatih perang sehingga dapat membantu pertempuran Jepang melawan sekutu. Untuk itu, berbagai program pun digulirkan, seperti pembentukan Gakukotai (laskar pelajar), Heiho (barisan cadangan prajurit), Seinendan (barisan pemuda), Fujinkai (barisan wanita), Putera (Pusat Tenaga Rakyat), Jawa Hokokai (himunan kebaktian Jawa), Keibodan (barisan pembantu polisi), Jibakutai (pasukan berani mati), dan Kempetai (barisan polisi rahasia).

Strategi lainnya adalah mengenalkan sistem pemerintahan terkecil yang disebut dengan Tonarigumi. Tonarigumi berarti kerukunan tetangga atau yang kita kenal sekarang dengan istilah rukun tetangga atau RT. Hanya saja, jika RT yang kita kenal sekarang dibentuk dengan berbasiskan kesadaran dan gotong royong, Tonarigumi dibentuk dengan tujuan mengetatkan pengendalian militer Jepang terhadap penduduk pribumi. Dengan begitu, Jepang mendapatkan kontrol penuh terhadap masyarakat Indonesia. Mereka dapat dengan mudah mengetahui jika ada yang membelot atau melakukan pemberontakan.

Akan tetapi pada intinya, Tonarigumi adalah asosiasi antar tetangga yang menjadi cikal bakal lahirnya rukun tetangga (RT) dan rukun warga (RW). Organisasi ini merupakan unit terkecil dalam program mobilisasi nasional bentukan Jepang pada masa Perang Dunia II. Di Jepang sendiri program ini sudah diberlakukan sudah sejak lama. Fungsinya, untuk memobilisasi masyarakat, khususnya di tingkat bawah, sehingga pemerintah pusat dapat mengawasi dan mengontrol mobilitas masyarakatnya secara menyeluruh.

Masa Shogun hingga Meiji

Pemerintahan Jepang berbentuk monarki atau berupa kerajaan, mengenai hal ini Jepang berbentuk kekaisaran yang dipimpin oleh kaisar. Kekaisaran Jepang berdiri sejak abad ke-7.

Kemudian, pada abad ke-12 para penguasa militer pun bangkit yang juga dikenal dengan era Shogun. Hingga abad ke-19, Jepang menggapai kemakmurannya, perekonomiannya sangat maju. Namun, Jepang tertutup terhadap dunia luar dan cenderung mengisolasi diri. Perbatasannya dijaga ketat sehingga tidak memungkinkan bangsa asing untuk masuk. Hal ini demi menjaga tradisi mereka dari pengaruh budaya dan tradisi bangsa asing.

Sayangnya, kebijakan mengisolasi diri ini membuat kemajuan ekonomi Jepang kalah dengan kemajuan ekonomi bangsa Barat. Hingga tibalah masa kekuasaan Meiji yang mengubah semua peraturan dan kebijakan yang dibuat oleh masa Shogun.

Pada masa Meiji (1868-1912) inilah, Jepang mulai membuka diri dengan dunia luar, khususnya dunia Barat dan merupakan awal mula modernisasi dan industri Jepang hingga penaklukkan negara-negara Asia, seperti Korea, Cina, dan negara Asia lainnya hingga ikut terlibat dalam Perang Dunia II. Sejak masa ini pula, Jepang dikenal sebagai negara maju dan penghasil teknologi terbaik.

SEJARAH PEMBENTUKAN GERAKAN TONARIGUMI DI JEPANG

Sama halnya dengan organisasi RT dan RW, Tonarigumi juga memiliki pembagian wilayah dengan batasan jumlah kepala rumah tangga. Satu kawasan Tonarigumi biasanya terdiri dari 10-15 kepala keluarga. Pada saat itu, berhubungan dengan masa peperangan, Pemerintah Jepang menetapkan tujuan utama pembentukan Tonarigumi sebagai strategi untuk menghimpun kekuatan. Setiap warga wilayah Tonarigumi dilatih menembak dan kemampuan lainnya demi menjaga keamanan.

Konsep kerukunan warga sebenarnya sudah sejak lama dianut oleh jepang, yaitu sejak zaman Edo. Namun, pada masa itu sistem tonarigumi tidak ditentukan secara resmi, dengan kata lain belum berbadan hukum. Sistem pemerintahan terkecil ini baru diresmikan pada 11 September 1940, yaitu pada masa pemerintahan Perdana Menteri Fumimaro Konoye.

Pada masa itu, keberadaan Tonarigumi memiliki berbagai fungsi dalam mensukseskan program Pemerintah dan membantu kelancaran pemerintahan, seperti mengalokasikan rangsum, menghubungkan ikatan antara masyarakat dengan pemerintah pusat, menyelenggarakan kesehatan masyarakat, membentuk pertahanan sipil, membentuk pasukan pemadam kebakaran, dan sebagainya.

Sebagaimana sistem RT dan RW saat ini, Tonarigumi pun terbagi dalam beberapa unit wilayah. Setiap wilayah memiliki peranan dan program sendiri, terutama program khusus tergantung kebutuhan di setiap wilayah atau unit. Selain itu, setiap unit Tonarigumi dituntut untuk turut andil dalam gerakan nasional yang digulirkan Pemerintah dalam upaya bela negara.

Dengan diadakannya Tonarigumi, Pemerintah Jepang pada saat itu merasa terbantu, terutama dalam hal upaya menjaga keamanan masyarakat dan negara. Dengan membagi tingkat wilayah keamanan masyarakat pun dapat terkontrol dengan baik. Dalam proses penegakan keamanan ini, setiap wilayah atau unit memiliki jaringan informasi dengan pihak kepolisian sehingga segala hal yang menyangkut gangguan keamanan dapat segera diatasi. Dengan begitu, permasalahan apapun dapat segera diredam sedini mungkin sebelum menjadi 

besar sehingga dapat mengganggu keamanan atau stabilitas nasional. 

PERANAN TONARIGUMI DALAM PERANG PASIFIK

Pada saat Jepang mulai menjajah berbagai negara di kawasan Asia Tenggara, pasukan Jepang pun turut membawa sistem Tonarigumi ke berbagai negara jajahan mereka, termasuk Indonesia. Tujuannya, untuk menguasai dan mendapatkan kontrol penuh terhadap setiap negara jajahan dari tingkat pemerintah pusat hingga ke tingkat masyarakat bawah.

Pada tahun 1941, Soviet yang selama ini berseteru dengan Jepang kalah dalam perang. Pada saat itu, Jepang berpikir bahwa saat itulah waktu yang tepat untuk menguasai kawasan Asia Tenggara dan beberapa pulau terdekat.

Tojo HidekiTojo Hideki adalah seorang jenderal yang kemudian diangkat sebagai Perdana Menteri Jepang (1941-1944). Di bawah kekuasaannya, Hideki menabuh genderang perang terhadap Amerika pada masa Perang Dunia II dengan menyerang pangkalan Angkatan Laut Amerika, Pearl Harbor pada Desember 1941.
Setelah Jepang kalah dalam perang pada tahun 1945, yang juga sebagai akhir dari perang Dunia II, Hideki dianggap sebagai tersangka dalam kasus kejahatan perang. Pada tahun 1948, sang jenderal pun dieksekusi.

Di sisi lain, Jepang juga tengah berada di bawah tekanan embargo minyak oleh Amerika Serikat sehingga melemahkan industri Jepang, pihak jepang pun khawatir jika saja mereka terlibat pertempuran dengan Amerika kalau melakukan invasi ke kawasan Asia Tenggara.

Di sisi lain, kawasan Asia Tenggara kaya akan minyak bumi. Namun, di sisi lain Jepang juga khawatir pihak Amerika akan segera bereaksi atas rencana Jepang. Selain itu, Pihak Amerika juga menyerukan Jepang untuk melepaskan Cina dan Indocina dan tidak lagi menjajah negeri lainnya. Jenderal Tojo Hideki pun menyetujui seruan

Artikel diatas merupakan kutipan dari: Kurnia, R (2019). Panduan RT dan RW, Jakarta: Bee Media Pustaka

Author

RTPINTAR lahir dari misi meneruskan estafet RT, RW ke generasi milenial. Siapa bilang RT nggak bisa keren!

Write A Comment